KEKERASAN RT, DIPICU DARI MASALAH EKONOMI

February 3rd, 2010 by lidya No comments »
kdrt

Rabu, 3 Pebruari 2010, tepatnya di kantor DPP Wanita Katolik-Kayu Jati Jakarta, REFORMATA berjumpa dengan seorang aktivis sosial, bernama Veronica E. Larasati Prayitno. Veronika menjadi ketua pada sebuah lembaga sosial bernama “RUMAH KITA”.
Lembaga ini menangani khusus kekerasan RT pada wanita dan anak-anak. Melalui perbincangan santai namun serius, Veronika menyimpulkan: “Kekerasan RT dipicu oleh masalah utama, yaitu masalah ekonomi”. Ada sekitar 300-an korban yang ditangani dan memberikan kesan yang sangat memprihatinkan, dari berbagai agama dan status sosial.
Khusus bagi anak muda yang akan berumahtangga, Veronika berpesan: “Jangan memaksakan keadaan untuk menikah, jika belum siap secara total. Pernikahan tidak mengurangi setiap persoalan, namun menambah persoalan. Hanya mereka yang siap dalam kedewasaan dan bertanggungjawab-lah yang dapat menghadapi kesulitan tersebut”. Dengan penuh keprihatinan yang mendalam, Veronika berharap jangan sampai ada anak muda yang harus ke RUMAH KITA, karena mengalami kekerasan RT.
Veronika dan teman-temannya melakukan pelayanan ini tanpa dibayar. Sebaliknya mereka berusaha dari kantong masing-masing mengumpulkan dana, daya, dan upaya untuk mendukung pelayanan RUMAH KITA. Fasilitas pelayanan yang memadai, program kegiatan yang bermutu, serta hati yang mencintai para korban, menghadirkan RUMAH KITA, menjadi berkat Tuhan bagi semua orang.
RUMAH KITA bekerjasama dengan masyarakat melalui hotline, rujukan dari: LSM, Kepolisian, LBH, panti sosial, kegiatan sosial gereja, serta lembaga sosial. Hal ini menjadikan RUMAH KITA berfungsi maksimal.
“Ada begitu banyak korban yang harus ditangani setiap harinya, membuktikan angka kekerasan terus bertambah. Latarbelakang lingkungan serta pendidikan mempengaruhi semua ini,” tutur Veronika. “Hanya bagi mereka yang menyadari kehidupan sebagai pemberian Tuhan-lah, yang dapat mengisi kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Tuhan pula yang menghadirkan setiap orang untuk melayani di RUMAH KITA dalam ketulusan. Setiap kebutuhan tetap terpenuhi, dengan campur tangan-NYA yang tidak berakhir,” tambah veronika pasti.
Kekerasan RT membuktikan, kurangnya kesadaran dan tanggung jawab untuk mencintai kehidupan, sebagai anugerahNYA. Selamat membangun kehidupan keluarga dengan kasih dan tanggung jawab. Tak lupa, selamat berbagi dalam kepedulian, kepada dunia sekelilingmu yang membutuhkan pertolongan.

TANGISAN KEKUATAN SEORANG AYAH

January 20th, 2010 by lidya No comments »
tangisanKehidupan mungkin harus ditertawai, itu cara untuk menghadapinya. Bagaimana tidak, bisa sejenak membuat kita tersenyum, tapi tiba-tiba bisa berubah menjadi tangisan. Ada duka dan tawa, yang terus mewarnai hari-hari kita. Selain memang rumit hidup ini, namun ternyata tidak juga, karena tergantung bagaimana kita menghadapinya.

Pagi ini, sosok orang tua mendekatiku dan menyodorkan tangan menyalami dengan begitu kuat. Akhirnya terjadi obrolan panjang yang penuh arti pagi ini. Sejak pagi, dia menanti, hanya ingin membeli tabloid REFORMATA. Keinginannya untuk dapat menjual tabloid kami, demi menambah pendapatan untuk dirinya dan menolong anak-anaknya. Tak hanya itu, dia ternyata berjualan empeye.

Orang tua yang sudah seharusnya santai di rumah, dan menikmati kebahagiaan, namun harus tetap berjuang demi hidup dan anak-anaknya. Dia tidak malu dengan harus menjual tabloid maupun empeye.

Obrolan kami sempat terhenti dengan setetes air mata, yang coba ditahannya. Tetesan bukan untuk meminta belas kasihan, namun kecintaannya pada anak-anaknya. Keprihatinannya akan kehidupan yang sulit, yang menggerakkannya untuk tetap bekerja apapun. Tapi dibalik obrolan pagi ini, ku belajar melihat kekuatan cinta orang tua ini, dan kehidupan anak-anaknya yang TELAH memberi kesulitan padanya.

Ada begitu banyak anak-anak yang tidak menghargai perjuangan dan cinta orang tuanya. Sejak lahir sampai menikah, tetap menjadi beban orangtuanya. Betapa menyedihkan. Tapi betapa hebat orangtua ini, dia tidak peduli akan kesulitan yang dia terima dari anak-anaknya, sebaliknya bagaimana dia tetap membuktikan cintanya pada mereka.

Berikanlah cinta dan perhatian kita pada orangtua, bukan hanya dengan uang atau materi. Tapi melalui kehidupan kita, yang bisa membuat mereka bahagia. Mereka bahagia bukan karena kita membuat mereka bahagia. Mereka bahagia ketika melihat hidup kita bahagia. Jangan menyusahkan mereka diwaktu dewasa, biarlah kita dapat membuat mereka tenang, dan menikmati hari tua mereka dalam senyum kebahagiaan, karena kita telah membuktikannya dengan tanggung jawab.

JANGAN MEMAKSAKAN APAPUN!

January 19th, 2010 by lidya No comments »
sabarProses hidup dan perkembangan, seringkali membentuk paradigma kita menjadi pribadi yang mandiri dengan kehidupan. Kemandirian kita seringkali membuat kita berjalan sendiri dan tidak terbuka tentang hidup kepada orangtua kita. Namun kedalaman kasih itu membuat mereka tahu apa yang sedang dialami oleh anak yang dicintainya. Inilah bukti yang tidak dapat diingkari, bahwa: “sesederhana apapun orangtua, mereka benar-benar adalah wakil Allah yang dilengkapi dengan hikmat dan cinta untuk mengenal, dan merasakan apa yang sedang terjadi dengan anaknya”.

Sore itu, kala cuaca hujan deras membasahi sekelilingku, ada suara tegar yang meninggalkan kasih tak terlupakan: “Anakku, percayalah! Tuhan selalu menyertaimu. Jangan pernah memaksakan keadaan untuk berubah menjadi seperti yang kau mau. Tapi belajarlah dengan kesabaran, jaga dirimu, anakku! Aku selalu mendoakanmu,” kata-kata itu bagai petir yang mampu mengalahkan suara hujan sore itu, dari mulut ayah tercinta.

Kata-kata itu begitu dalam, walau jauh tapi begitu dekat denganku. Dia tahu apa yang sedang dialami anaknya. Sambil tersenyum dan terharu, ku membalas: “AKu mau selalu mendengar nasehatmu Pa,” sambil tertawa kecil dia membalas: “tidak ada orang tua yang tidak peka dengan apa yang terjadi dengan anaknya. Anakku, percayalah kamu tidak sendiri. Papi percaya padamu, kamu mampu menghadapi hidup ini. Jangan pernah memaksakan apapun! Percayalah, Tuhan yang mengatur hidup ini”. Kata-kata seorang ayah yang kucintai, yang mampu memberi semangat dan keyakinan akan apa yang sedang kujalani.

Sore ini, mengingatkanku akan tahun-tahun kecilku yang selalu bersamanya. Perlindungan, dan kasih yang selalu diberikannya padaku hingga ku besar seperti ini.
Ayah yang luar biasa, ayah yang baik dan bijaksana. Ayah yang selalu bekerja keras dan bertanggung jawab bagi anak dan istrinya.

Diakhir obrolan sore itu, dia mulai mengingatkanku: “Anakku, papi orang yang miskin tapi papi kaya. Karena papi punya kamu, dan saudara-saudaramu”.

Kebahagianku bertambah karena mewarisi kepribadian ayahku yang luar biasa. Dia selalu mengajarkan tentang tanggungjawab, ketegaran namun selalu penuh dengan kelembutan. Yang paling penting, dia selalu percaya bahwa Tuhan selalu bersama anaknya. Dia percaya cinta dan kepercayaan yang dia berikan kepada anaknya, mampu membuat anaknya menghadapi kehidupan.

Makasih Papi. Ku mengasihi dan mencintaimu!

Jago Nyanyi yang Ingin Jadi Dokter

January 18th, 2010 by lidya No comments »
Gustiadi Djohan, Juara 1 AFI Junior 2005 adi
SEJAK kecil Gustiadi Djohan senang mendengar lagu-lagu rohani, bahkan mampu melafalkan dan menyanyikan lagu-lagu itu dengan baik. Hal ini ternyata tidak luput dari perhatian Agus Djohan dan Yuli Justitia, orang tua Gustiadi. Yuli pun bertekad untuk mengasah kemampuan nyanyi sang anak dengan melatihnya. Jika ada lomba nyanyi, Adi—panggilan Gus-tiadi—diikutkan guna mengem-bangkan bakatnya tersebut. Dan semuanya memberi hasil nyata dalam bentuk raihan prestasi.
Waktu duduk di kelas 3 sekolah dasar (SD), Adi mengikuti lomba nyanyi se-Kota Madya Makassar, Sulawesi Selatan. Dia meraih juara pertama. Guna meningkatkan ba-kat ini, Adi diberikan les privat khu-sus olah vocal. Sang oma yang kebetulan pelatih paduan suara gereja pun turut melatih Adi. Adi dibentuk melalui latihan, dorongan, dan bimbingan yang tepat.
Di kelas 4 SD, putra kelahiran Makassar, 19 Agustus 1995 ini mendapat kesempatan mengikuti lomba nyanyi AFI Junior, yang diselenggarakan sebuah stasiun televisi swasta. Setelah melalui berbagai tahapan, Adi pun terpilih menjadi juara 1 AFI Junior 2005. Prestasi ini tidak pernah dia duga sebelumnya. Selain menjalankan taking kontrak bersama Indosiar, Adi mendapat banyak kesempatan berperan dalam seni peran dan modeling untuk tahun-tahun selanjutnya.
Adi terpilih men-jadi presenter acara mingguan TV ”Disney Club”, pe-meran utama anak FTV “Mission ‘N Possible”, FTV “Ayahku Pende-kar”, FTV “Teman Tapi Tak Mesra”. Kemudian menjadi model Iklan Cetak Pakaian Cubitus & Snoopy, Iklan TV Multivitamin Be-combion Grow. Siswa kelas 9 Se-kolah Dian Harapan ini juga pernah men-jadi Duta Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia. Berkat suara khasnya, Adi bah-kan mendapat kesempatan nya-nyi di acara live “Golden Ways” Mario Teguh-Metro TV.
Tapi prestasi yang dimilikinya tidak membuat dia melu-pakan pendidikan di sekolah. “Adi menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama, bahkan kemam-puan nyanyi tetap akan dikem-bangkan. Lebih khusus terlibat dalam pelayanan-pelayanan acara gerejawi,” tegas Yuli. Hal ini benar-benar dibuktikan Adi dengan tetap berprestasi terbaik di seko-lah, dan tetap melayani dengan pujian. Di bulan Desember 2009 ini, Adi menghadirkan album solo perdana, dengan tema: Don’t Give Up, produksi Blessing Musik.

Cita-cita dan pelayanan
Meski talenta di bidang tarik suara sudah terbukti bisa mem-berikan masa depan gemilang baginya, namun Adi yang gemar membaca ini ternyata bercita-cita jadi dokter. “Tapi untuk mengem-bangkan seluruh kemampuan yang saya miliki, saya akan memilih untuk fokus dengan bernyanyi,” kata jemaat GBI Basilea Gading Serpong yang juga aktif sebagai worship leader remaja. Baginya, melayani di acara-acara gereja lain, akan membuat dia berbagi kesempatan di luar.
Di tengah kesibukan Adi, peran ibu kembali terlihat. Dengan ban-tuan sang Bunda, Adi dapat me-nyeimbangkan kegiatan nyanyi dan sekolah, karena di-manage dengan baik. Setiap hari Adi tetap melakukan latihan pemanasan, dan terus bernyanyi. Tugas-tugas sekolah tetap dikerjakan Adi tuntas dan tetap enjoy. “Keman-dirian dan tanggung jawab ter-hadap diri selalu ditanamkan ke-pada Adi. Selain itu ada pengon-trolan, khusus saat bermain dan apa yang dilakukan. Saya dan ayah Adi tidak pernah memaksa Adi harus menjadi apa, tapi dia harus menjadi diri sendiri dan berada dijalur yang benar,” kata ibunda.
Tentang dunia remaja yang kini dia jalani, Adi berkomentar, “Dunia remaja membuktikan kami lebih semangat dan antusias, namun kadang sulit menyaring setiap informasi dan pengaruh yang negatif”. Tentang peran orang tunya, Adi berucap, “Saya tidak bisa memberikan apa-apa, hanya bisa berterima kasih atas setiap kebaikan dan cinta mereka, bekal hidup yang telah diwariskan kepada saya”.
Tuhan adalah segalanya buat Adi. Di Natal ini, Adi mempersem-bahkan sebuah album rohani dan berharap itu menyenangkan Tuhan.

Ditulis untuk: http://reformata.com/03428

Kristus Melepaskan Belenggu Narkoba

January 18th, 2010 by lidya No comments »

Hendi Yeftahendy

ADA banyak anak bertumbuh menjadi pribadi yang tidak sehat, hanya karena perilaku orang tuanya yang buruk. Kete-ladanan yang tidak dapat dicontoh, miskinnya kasih sayang dan perhatian, serta merosotnya peran dan tanggung jawab orang tua, memberi dampak yang fatal bagi anak. Hendi Yefta adalah salah satu korban itu. Pria kelahiran Pon-tianak, 24 Agustus 1979 ini, dibesarkan oleh orang tua yang diktator, sibuk di luar rumah. Rasa jenuh, marah, benci karena komunikasi yang sulit, serta ketidakharmonisan di rumah, menyebabkan Hendi kecil menyenangi kehidupan di luar rumah. Inilah awal Hendy terpe-rosok ke dalam pergaulan buruk, hingga menjadi pecandu narkoba.
Di masa kecilnya, Hendi miskin kasih sayang, dan terbentuk menjadi pribadi yang suka mem-berontak. “Dari kecil Papa selalu memukul dan menghajar, jika saya berbuat salah. Tapi setelah saya remaja, Papa tidak lagi memukul tapi memarahi, karena saya sudah berani melawan. Saya sering kabur dari rumah jika diomeli orang tua,” kenang Hendi pilu.
Masa-masa kelas 2 SMP menjadi titik awal yang buruk dalam kehi-dupan anak ke-5 dari 9 bersaudara ini. Dia bergaul dengan teman-teman senasib yang dinilai lebih dapat memahaminya. Cara melam-piaskan kemarahan adalah dengan berkelahi, balapan motor liar, minum-minuman keras, dan me-rokok. Hendi gemar berkelahi, bah-kan mencaci-maki dan memukul guru dia berani. Dia dikeluarkan dari sekolah sampai tiga kali.
Dia juga mulai mengenal dugem (dunia gemerlap), yang mengiring-nya mengenal narkoba. Di usia 18, Hendi yang ada di Jakarta, ditangkap polisi karena narkoba. Ini untuk pertama kali dia berurusan dengan polisi. Tapi Hendi tidak sampai dipenjara, karena mem-bayar denda. Sekalipun demikian, Hendi makin kehilangan arah. Dia sudah bergantung pada narkoba.
Orang tua Hendy kewalahan dan pasrah. Mereka terus mencari informasi mengenai narkoba dan penanganannya. Segala cara dicoba, mulai secara ritual agama, pergi ke dukun, dikurung di rumah, dikirim ke RSKO, tapi semuanya gagal total. Kakak perempuan Hendi yang ada di Taiwan meng-usulkan Hendi dikirim ke Taiwan.

Taiwan dan pergolakan
Di Taiwan, Hendi bekerja sebagai waiter restoran. Namun dia juga mau bekerja kasar seperti mencuci gedung, me-moles marmer. Awalnya, di Taiwan, Hendi benar-benar bisa lepas dari narkoba dan dapat menjalani hidup normal. Hidup makin indah ketika Hendi ber-temu dengan Mickey, atasannya di restoran Itali, tempatnya bekerja. Mereka saling jatuh cinta. Setelah pacaran hampir 3 tahun, mereka menikah tahun 2002. Dari pernikahan ini lahir seorang putri yang mereka beri nama Evelyn.
Sayang, menginjak tahun ke-4 pernikahan mereka, Hendi kembali pada kebiasaan lamanya. “Awalnya saya berpikir bahwa anak kecil berumur 3-4 tahun seperti anak saya, tidak akan mengerti dengan apa yang saya lakukan. Saya sering bertengkar dengan istri di hadapan anak saya. Saya juga memakai drugs di depan anak saya. Saya dapat merasakan bahwa dia sangat membenci saya waktu itu. Anak saya selalu menjauh bila saya men-coba memeluk dia,” kenang Hendi dengan nada menyayat hati.
Pernikahan Hendi tidak bahagia. Hendi mencari hiburan di luar rumah dan tidak pulang rumah, mabuk-mabukan, pesta pora, dan kembali ke narkoba. Hendi hidup dalam keputusasaan. Pernikahan di ambang kehancuran. Narkoba membuat Hendi kehilangan akal sehat. Mencuri, menjambret, dan merampok dilakukannya demi menikmati narkoba. Akhirnya Hendi mendekam di penjara Taiwan sebanyak 2 kali. Tapi itu tidak membuatnya melepaskan diri dari jerat narkoba. Dia bahkan membongkar kantor tempat istrinya bekerja. Tapi dia bisa lolos dari incaran polisi, ketika berada di bandara Taiwan untuk kembali ke Indonesia.

Kehidupan baru
Di Jakarta, Hendi berpikir untuk memulai hidup baru, tapi tetap gagal. “Suatu hari ada seorang pecandu yang tidak saya kenal, dan memakai drugs bersama saya. Dia bercerita tentang Yesus yang juga pernah mengubah dia,” kisah Hendi. Waktu itu Hendi dalam keadaan putus asa dan tidak ada pengharapan sama sekali. Hendi yakin bahwa saat itu, Injil sudah menjamah dirinya, sehingga memi-liki kerinduan untuk mengenal pribadi yang sanggup mengubah hidup seseorang. “Singkat cerita saya masuk ke rehabilitasi narkoba di Yayasan Breakthrough Missions Indonesia (YBMI), Oktober 2007 sampai hari ini,” kisah Hendi. Di sinilah titik awal Hendi mengalami perubahan.
Bukan perkara mudah melewati proses pendisiplinan. Mendapatkan suguhan hal-hal rohani, adalah sesuatu yang baru bagi Hendi sebagai orang berlatarbelakang bukan Kristen. “Waktu itu saya masih ‘buta’ tentang Kristen, na-mun kerinduan saya untuk berubah begitu besar yang membuat saya mampu melewati proses sampai hari ini. Tuhan melihat kemauan saya dan Dia memampukan saya. Sekarang saya diijinkan untuk melayani Tuhan melalui Breakthrough Missions sebagai koki untuk menyediakan makanan bagi penghuni rehabilitasi ini,” urai Hendi penuh sukacita.
“Setelah saya sadar bahwa Allah mengasihi saya dan mau memberikan hidup-Nya bagi saya, yang kotor ini. Tuhan menerima saya apa adanya, bahkan memulih-kan hidup saya. Saya tidak tahu pasti kapan saya berkomitmen, tapi yang pasti itu terjadi tidak lama setelah pertobatan saya,” jelas Hendi mantap.
Keseriusannya mencari Tuhan, membuat dia mencoba menaati semua aturan dan program yang diberikan. Kesempatan mengikuti training staff/mentor/pembina se-bagai rekan kerja di YBMI, semua-nya berjalan seiringan dengan perubahan Hendi. Hendi dinilai sebagai seorang yang bertang-gung jawab atas segala tugas dan kewajiban yang diberikan kepada-nya. Sikap yang matang dan kerendahan hati, karena kesadaran akan kasih Tuhan untuk dipakai Tuhan sebagai alat-Nya dapat dilihat di YBMI.
Aktivitas Hendi sehari-hari adalah memasak untuk semua orang yang tinggal di panti rehabilitasi. Dia mem-bangun diri dengan hidup disiplin, misalnya bangun pagi, jam tidur tidak terlalu malam, tanggung jawab dan disiplin dalam pekerjaan, juga displin rohani: saat teduh, doa pagi, puasa, dan lain-lain. Semuanya semakin memben-tuk Hendi sebagai pribadi yang menjadi berkat. Hendi mau men-jadi seorang hamba yang harus melayani.
Hendi sadar, tidak sedikit pecan-du yang keluar dari rehabilitasi dan jatuh lagi walaupun banyak yang juga bertahan. “Sampai hari ini pun, saya tetap direhabilitasi dan masih diproses. Bukan suatu hal yang mudah bagi saya, seorang mantan pecandu untuk menjaga hidup agar tidak lagi jatuh ke dalam dosa, terutama narkoba,” aku Hendi jujur.
Hendi menyadari proses dan kelemahanya, namun keyakinan kepada Kristus yang mampu mengubah siapa pun, memberi harapan bagi Hendi. Dampak peru-bahan Hendi memberi sukacita bagi keluarganya, khususnya bagi istri dan anaknya. Titik perubahan drastis itu terjadi setelah Hendi menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Itulah titik pen-ting di balik perkembangan Hendi yang menggembirakan.

Ditulis untuk: http://reformata.com/03426