ANAK JALANAN POTENSIAL

March 11th, 2010 by lidya No comments »

Sanggar Dapur Kreatif
dapurkreatif2

PENAMPILAN kumuh, berbahasa sederhana, dan sehari-hari hidup di jalanan. Mereka dikenal dengan kumpulan anak-anak jalanan. Dalam memperjuangkan kehidupan, mereka melakoni berbagai “profesi” sebagai pengamen, pemulung, pengemis, dan preman.
Masyarakat memandang mereka sebagai “sampah masyarakat”, yang hanya mengotori jalanan. Menghambat aktivitas, merusak kenyamanan orang-orang sekeliling, oleh tindakan dan perbuatan mereka yang kurang lazim.
Namun berbeda, setelah bertemu dengan anak-anak jalanan yang berada di sebuah komunitas sanggar Dapur Kreatif. Di kawasan Karet Sawah-Jakarta Pusat, mereka menempati bangunan sederhana, berbentuk “sauh”, terbuat dari bambu. Di sinilah mereka berkumpul dan membangun kreativitas: mulai dari mengerjakan sablon, membuat hiasan dinding, kerajinan tangan (gelang tangan unik), dan memproduksi alat-alat musik etnik yang terbuat dari bambu, serta memainkannya.
Kumpulan anak-anak jalanan yang berbeda, oleh karena kemampuan seni mereka yang sangat tinggi. Di antaranya ada Abah (Heri Aldi Pulwadi Bumi), pria berusia 34 tahun ini memiliki kemampuan ganda. Selain bisa membuat alat-alat musik etnik yang terbuat dari bambu, Abah juga memiliki kemampuan memainkan seluruh alat musik, dan memiliki suara layaknya Iwan Fals. Penampilan layaknya seniman cuek, yang senang tidur. Bukan karena malas, melainkan karena letih menjalani kehidupan panjang yang berat. Diakuinya mendapat banyak inspirasi setiap bangun tidur, yang berguna untuk membuat alat musik.
Selain Abah, ada Cheko (Yadi Cahyadi). Ayah 2 orang anak ini, memiliki kemampuan berteater, memainkan musik budaya etnik. Serta Rian, pemuda yang juga memiliki suara merdu, kemampuan memimpin, memainkan beberapa alat musik, bahkan kreatif membuat kerajinan tangan.
Berbincang-bincang dengan mereka, REFORMATA menemukan jawaban. Ternyata mereka dari kumpulan anak-anak yang terlahir oleh penolakan orang tua. Mereka dibuang, dilupakan, tidak dipedulikan. Mereka korban kekerasan keluarga dan lembaga. Mereka, anak-anak yang cerdas dalam seni, hanya tidak mendapat kesempatan baik untuk memperkenalkan kemampuan mereka.
Anak-anak jalanan yang potensial, memperbaiki generasi. Mereka butuh wadah yang dapat mensupport kemajuan mereka.

“Funky but Holy”

March 10th, 2010 by lidya No comments »

GEREJA UNTUK ANAK MUDA

kgc
ADA fenomena di berbagai denominasi gereja di Indonesia, di mana dari tahun ke tahun angka kehadiran pemuda dalam kebaktian pemuda cenderung menurun. Apa yang melatarinya? Hal ini mendorong kehadiran Kingdom Generation Church (KGC), sebuah gereja anak muda di bawah naungan GBI Rock, yang digembalakan oleh Ps. Ronny Daud Simeon.

Ini dimulai dari keprihatinan Ps. Ronny Daud Simeon, terhadap kebangunan generasi muda, hingga menemukan solusi menciptakan ibadah yang benar-benar memenuhi kebutuhan anak muda. Ibadah dilakukan di kafe-kafe, bahkan diskotik, dan acaranya lebih dikenal dengan party/clibing, bukan “kebaktian pemuda”.

“Melompat, teriak, bernyanyi, menari, tanpa harus dibatasi, selama itu untuk memuji Tuhan. Tubuh adalah bait Allah, maka kami dapat memuji Tuhan dengan ekspresi yang bebas melalui tubuh kami,” ungkap Danar Idol dan Maya Uniputty, personil anak muda KGC dengan sangat antusias. “Tidak jaim beribadah,” tambah gembala KGC.

Bagaimana menyeimbangkan suasana party sambil membangun spiritual? “Peka terhadap pimpinan Roh Kudus dan dituntun Firman Tuhan,” cetus Ps . Ronny Daud Simeon pasti.

Kebutuhan anak muda terpuaskan oleh kehadiran KGC, dan rata-rata kehadirannya mampu menggaet banyak artis. Ada kemajuan dalam tingkat kuantitas, dari sisi kualitas terbentuknya tim song leader yang bisa melayani melalui album Kingdom Generation: Expansion.

Selamat membangun pertumbuhan rohani anak muda, dengan semangat berekspresi untuk memuliakan Tuhan. Tapi, tetap waspada tidak kehilangan inti menyenangkan Tuhan, bukan untuk memuaskan diri. Memuaskan kebutuhan anak muda, tapi tidak kehilangan memuaskan hati Tuhan. Apakah KGC dapat memfasilitasi hal ini? Silakan mengamati dan jangan salah mengambil sikap!

?Lidya

KASIH TAK BERUJUNG

February 12th, 2010 by lidya 1 comment »

love

Ini adalah judul buku yang ingin kupersembahkan di tahun ini, bagi orang-orang yang kucintai. Hidup ini bertambah indah, jika kasih ada disana. Dalam kesulitan, kelemahan, rintangan dan tantangan yang dihadapi, ketika ada kasih, semuanya terasa mudah untuk dilewati.

Kasih membuat kita bertahan hidup, dengan semangat untuk menggapai setiap impian yang ada. Kasih membuat kita mampu melihat terang dalam kegelapan, ketegaran dalam tekanan, harapan dalam keputus-asahan.

Kasih membuat kita bertambah dewasa mengerti arti kehidupan. Ada banyak yang tidak terpahami, namun dengan kasih, pengertian menghadapi dan melewati menambah nilai yang tersembunyi dibalik proses itu.

Kasih membuat kita tidak berdaya untuk terus memberi perhatian, ketulusan, cinta, dan pengorbanan. Kasih membuat kita menjadi begitu limpah dengan kehidupan. Sepertinya ada kekuatan yang mendorong kita untuk tidak berhenti membuktikan kasih itu, walau kita mendapatkan perlakuan berbeda dari kasih itu.

Kasih itu membuat kita menemukan arti kasih yang sesungguhnya. KASIH yang tidak berujung, yang diberikan melimpah dalam kesucian dan kehebatan-NYA.

Jika bulan ini menjadi bulan kasih, khusus ditanggal 14 Pebruari. Ingatlah, hanya mereka yang jujur dan tulus dengan kasih itu yang layak merayakannya. Jika selama ini kasih itu menjauh dari kita, jangan biarkan keadaan itu tetap menjauh. Hanya kasih yang membuat hidup ini indah dan berarti. Mulailah dari hal sederhana, memberi perhatian, sapaan, senyum, teguran, dan keinginan untuk memberi yang terbaik.

KASIH yang TAK BERUJUNG, akan mendorong setiap pemiliknya untuk terus melakukan kasih itu.

KEKERASAN RT, DIPICU DARI MASALAH EKONOMI

February 3rd, 2010 by lidya No comments »
kdrt

Rabu, 3 Pebruari 2010, tepatnya di kantor DPP Wanita Katolik-Kayu Jati Jakarta, REFORMATA berjumpa dengan seorang aktivis sosial, bernama Veronica E. Larasati Prayitno. Veronika menjadi ketua pada sebuah lembaga sosial bernama “RUMAH KITA”.
Lembaga ini menangani khusus kekerasan RT pada wanita dan anak-anak. Melalui perbincangan santai namun serius, Veronika menyimpulkan: “Kekerasan RT dipicu oleh masalah utama, yaitu masalah ekonomi”. Ada sekitar 300-an korban yang ditangani dan memberikan kesan yang sangat memprihatinkan, dari berbagai agama dan status sosial.
Khusus bagi anak muda yang akan berumahtangga, Veronika berpesan: “Jangan memaksakan keadaan untuk menikah, jika belum siap secara total. Pernikahan tidak mengurangi setiap persoalan, namun menambah persoalan. Hanya mereka yang siap dalam kedewasaan dan bertanggungjawab-lah yang dapat menghadapi kesulitan tersebut”. Dengan penuh keprihatinan yang mendalam, Veronika berharap jangan sampai ada anak muda yang harus ke RUMAH KITA, karena mengalami kekerasan RT.
Veronika dan teman-temannya melakukan pelayanan ini tanpa dibayar. Sebaliknya mereka berusaha dari kantong masing-masing mengumpulkan dana, daya, dan upaya untuk mendukung pelayanan RUMAH KITA. Fasilitas pelayanan yang memadai, program kegiatan yang bermutu, serta hati yang mencintai para korban, menghadirkan RUMAH KITA, menjadi berkat Tuhan bagi semua orang.
RUMAH KITA bekerjasama dengan masyarakat melalui hotline, rujukan dari: LSM, Kepolisian, LBH, panti sosial, kegiatan sosial gereja, serta lembaga sosial. Hal ini menjadikan RUMAH KITA berfungsi maksimal.
“Ada begitu banyak korban yang harus ditangani setiap harinya, membuktikan angka kekerasan terus bertambah. Latarbelakang lingkungan serta pendidikan mempengaruhi semua ini,” tutur Veronika. “Hanya bagi mereka yang menyadari kehidupan sebagai pemberian Tuhan-lah, yang dapat mengisi kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Tuhan pula yang menghadirkan setiap orang untuk melayani di RUMAH KITA dalam ketulusan. Setiap kebutuhan tetap terpenuhi, dengan campur tangan-NYA yang tidak berakhir,” tambah veronika pasti.
Kekerasan RT membuktikan, kurangnya kesadaran dan tanggung jawab untuk mencintai kehidupan, sebagai anugerahNYA. Selamat membangun kehidupan keluarga dengan kasih dan tanggung jawab. Tak lupa, selamat berbagi dalam kepedulian, kepada dunia sekelilingmu yang membutuhkan pertolongan.

TANGISAN KEKUATAN SEORANG AYAH

January 20th, 2010 by lidya No comments »
tangisanKehidupan mungkin harus ditertawai, itu cara untuk menghadapinya. Bagaimana tidak, bisa sejenak membuat kita tersenyum, tapi tiba-tiba bisa berubah menjadi tangisan. Ada duka dan tawa, yang terus mewarnai hari-hari kita. Selain memang rumit hidup ini, namun ternyata tidak juga, karena tergantung bagaimana kita menghadapinya.

Pagi ini, sosok orang tua mendekatiku dan menyodorkan tangan menyalami dengan begitu kuat. Akhirnya terjadi obrolan panjang yang penuh arti pagi ini. Sejak pagi, dia menanti, hanya ingin membeli tabloid REFORMATA. Keinginannya untuk dapat menjual tabloid kami, demi menambah pendapatan untuk dirinya dan menolong anak-anaknya. Tak hanya itu, dia ternyata berjualan empeye.

Orang tua yang sudah seharusnya santai di rumah, dan menikmati kebahagiaan, namun harus tetap berjuang demi hidup dan anak-anaknya. Dia tidak malu dengan harus menjual tabloid maupun empeye.

Obrolan kami sempat terhenti dengan setetes air mata, yang coba ditahannya. Tetesan bukan untuk meminta belas kasihan, namun kecintaannya pada anak-anaknya. Keprihatinannya akan kehidupan yang sulit, yang menggerakkannya untuk tetap bekerja apapun. Tapi dibalik obrolan pagi ini, ku belajar melihat kekuatan cinta orang tua ini, dan kehidupan anak-anaknya yang TELAH memberi kesulitan padanya.

Ada begitu banyak anak-anak yang tidak menghargai perjuangan dan cinta orang tuanya. Sejak lahir sampai menikah, tetap menjadi beban orangtuanya. Betapa menyedihkan. Tapi betapa hebat orangtua ini, dia tidak peduli akan kesulitan yang dia terima dari anak-anaknya, sebaliknya bagaimana dia tetap membuktikan cintanya pada mereka.

Berikanlah cinta dan perhatian kita pada orangtua, bukan hanya dengan uang atau materi. Tapi melalui kehidupan kita, yang bisa membuat mereka bahagia. Mereka bahagia bukan karena kita membuat mereka bahagia. Mereka bahagia ketika melihat hidup kita bahagia. Jangan menyusahkan mereka diwaktu dewasa, biarlah kita dapat membuat mereka tenang, dan menikmati hari tua mereka dalam senyum kebahagiaan, karena kita telah membuktikannya dengan tanggung jawab.